Rabu, 10 Juni 2009

API UNGGUN

campfire_small.jpg

Suatu malam sang mursyid bertemu dengan beberapa muridnya, dan mengatakan kepada murid-muridnya untuk mendirikan kemah berikut dengan api unggun agar mereka dapat duduk dan berbincang-bincang. “Jalan ruhani ialah seperti api yang terbakar di depan kita,” katanya. “Seseorang yang ingin menyalakan api harus berhadapan dengan asap yang tidak nyaman yang menyebabkannya sulit untuk bernafas dan rasa perih di mata. Seperti itulah keimanannya dibangun. Bagaimana pun, tatkala apinya menyala, asapnya menghilang, dan apinya menerangi segala sesuatu di sekelilingnya — memberikan kehangatan dan ketenteraman.” “Tetapi bagaimana jika seseorang menyalakan api untuknya?” tanya salah satu muridnya. “Dan juga jika seseorang membantu kita menghindari asapnya?”
“Jika seseorang melakukan hal itu, dia adalah mursyid yang palsu. Seorang mursyid memiliki kemampuan untuk menyalakan api kapan pun dia inginkan, atau memadamkannya kapan pun ia mau. Dan karena dia tidak pernah mengajarkan seseorang bagaimana caranya untuk menyalakan api, kemungkinan dia akan meninggalkan setiap orang dalam kegelapan.”

*********

Mursyid: Seorang pembimbing di jalan ruhani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar